“Hai cantik, seksi banget sih!”

by Nina Hidayat, moderator Tentang Perempuan
originally written Feb 23 2017

 

“Hai cantik, seksi banget sih!” Pernah digoda dengan kalimat seperti itu di jalanan? Untuk kebanyakan perempuan, godaan seperti itu bukan lagi hal aneh. Saya sering mengalaminya di jalan ke kantor, ketika memutar melewati perkampungan di daerah Bendungan Hilir. Seorang teman perempuan asal Amerika yang tinggal di daerah saya juga sering digoda dengan sapaan “hi Miss!” dan semacamnya.

 …
Di tengah wawancara untuk video Tentang Perempuan, seorang narasumber juga mengaku sering digoda ketika lari pagi. “Sebagai perempuan berukuran tubuh plus, saya merasa jumlah godaan yang ditujukan pada saya di jalan dua kali lipat banyaknya dibanding perempuan berukuran tubuh ‘normal’,” katanya. “Bahenol” adalah salah satu kata-kata yang sering ditujukan padanya di jalan.
 …
Apakah godaan semacam itu dapat digolongkan sebagai pelecehan?
Itu adalah salah satu topik bahasan dalam acara diskusi terbuka bertajuk “Bersuara”, yang diinisiasi The Jakarta Feminist Discussion Group dan Hollaback Jakarta. Premis acara ini adalah “mendiskusikan pelecehan di tempat umum dan hal-hal yang dapat kita lakukan saat pelecehan terjadi.” Saya datang bersama dua orang teman. Jujur, saya tidak punya ekspektasi jelas tentang diskusi ini. Bisa jadi, ini akan menjadi diskusi yang diwarnai pendapat ekstrim dan kemarahan yang mengggunung kepada pelaku pelecehan. Atau, bisa juga menjadi diskusi yang penuh emosi dari korban kekerasan jalanan yang mungkin belum pernah bercerita tentang pengalaman mereka sebelumnya. Ternyata, diskusi dalam acara “Bersuara” ini bukan keduanya.
 …
Diskusi dibuka oleh Kate Walton, seorang ekspat asal Australia yang menulis artikel viral berjudul “Sexually Harassed 13 Times in 35 Minutes”. Dalam artikelnya, ia menceritakan pengalaman berjalan kaki dari daerah Mayestik ke Senayan. Kate yang hari itu memakai rok terusan selutut digoda dengan macam-macam ucapan. Mulai dari “halo sayang!” sampai “boleh minta nomor teleponnya, miss?”
 …
Mendefinisikan pelecehan di tempat umum tidak pernah mudah. Ada yang menganggap godaan yang dilontarkan orang iseng di jalan adalah kekerasan verbal, ada juga yang menganggap pelecehan baru terjadi ketika ada kontak fisik.
 …
Yang menarik dari diskusi Bersuara adalah mendengar opini dari beberapa laki-laki yang datang hari itu. Salah satu dari mereka adalah seorang laki-laki feminis yang sangat vokal melawan pelecehan, dalam bentuk apapun, terhadap perempuan. Ia mengakui, kadang dirinya dianggap aneh ketika tidak tertawa saat mendengar gurauan “khas laki-laki” yang merendahkan perempuan.
 …
Salah satu pendapatnya yang menurut saya menarik, adalah penyebab pelecehan di tempat umum. Ia menyebut tentang toxic masculinity, di mana laki-laki mencari rasa maskulin dengan cara melecehkan perempuan. Saya harus mengakui bahwa saya tidak pernah mendengar istilah ini sebelumnya. Pelajaran baru 🙂
Hal menarik lainnya adalah komentar dari seorang transgender. Sebagai orang dari komunitas transgender, ia sering dilecehkan di jalan. “Kadang saya tatap mata dia yang menggoda saya, lalu saya tanya: apakah kamu manusia? Kalau ya, kamu tidak akan memperlakukan orang lain seperti ini.” Sungguh, saya ingin tepuk tangan saat itu juga. Saya sering merasa tidak berdaya sebagai perempuan, apalagi beretnis Cina, di jalanan. Ada refleks untuk tetap diam saat pelecehan, termasuk pelecehan fisik, terjadi. Demi keamanan diri sendiri. Tetapi melihat fenomena ini dari kacamata orang lain sungguh membuka mata dan menyuntikkan keberanian.
 …
Di akhir diskusi, peserta berbagi tips untuk menghadapi pelecehan di tempat umum, baik untuk korban maupun saksi. Salah satu yang paling praktis adalah memotret (atau berpura-pura memotret) pelaku untuk memberitahunya bahwa kelakuannya tidak akan dilupakan begitu saja. Tips yang lucu, sekaligus berani, datang dari seorang perempuan yang pernah menghadapi seorang eksibisionis yang memamerkan penisnya kepada si perempuan saat ia melintasi sebuah jalan. “Saya bilang padanya: ih, koq kecil? Lalu saya lewat cepat-cepat,” katanya.
Mungkin kunci untuk melawan pelecehan di jalanan adalah dengan menjadi sedikit lebih berani, dan sedikit lebih peduli. Lebih berani membela diri saat menjadi korban, dan lebih peduli ketika ada orang lain (laki-laki maupun perempuan) di sekitar kita yang mengalami pelecehan.

This post is also available in: Indonesian

3 responses to ““Hai cantik, seksi banget sih!”

  1. I agree 100% with the conclusion. Sebagai perempuan yg memiliki hourglass body figure, you are right, it’s double the street harassment. Saya tidak berkapaian ketat,tidak. Namun lecehan “Hai cantik”, “Hai cewe manis”, dan “wuihhh” (ketika saya berjalan melewati mereka pakai masker) pun tetap dapat. Saya sangat kesal sampai 3 bulan yg lalu saya mulai berani membalas secara verbal, contohnya “Gak usah genit deh” saja mereka langsung diam.
    Jujur hal ini telah membuat saya sangat kesal dan ingin sekali membuat perubahan.
    Thanks to this community, I have finally found the way.

    1. Terima kasih sudah berbagi, Charina. I admire your courage 🙂

      Buat saya sendiri, ngga gampang untuk menanggapi pelecehan verbal. I would really like to. Kadang suka kesal sendiri juga karena ngga berani jawab.

      Anyway, take care dan jangan menyerah dengan Jakarta/Indonesia ya! <3

  2. Jakarta masih mending menurutku, 6 tahun di Jakarta, pindah2 kantor dan kosan.
    Yang paling parah menurutku itu Jaktim, Jakut, yang paling aman itu Jaksel. Tapi selama di Jakarta paling hanya mengalami hitungan jari.

    Orang2 Jakarta Selatan banyak yang kalangan menengah atas, cuek, dan banyak pendatang, jadi mereka ngga berani macam2.
    Selama di Jaksel, sering lembur pulang malam jalan kaki, ngga pernah ada kejadian apapun.

    Yang terparah itu di Bandung, 3 tahun tinggal disini ngga nyaman banget. Premanisme, parkir liar, gelandangan, tukang ngamen merajalela disini, selama beberapa tahun, aku dan teman2 sering melaporkan ke website Lapor, tidak ada kelanjutannya.

    Jalan kaki siang hari saja di goda dengan kata2 kotor plus rasis. Waktu pulang malam, pernah jadi korban begal payudara. Naik angkot sering ketemu eksibisionis. Makan street food, banyak pengamen yang maksa, kalau ngga dikasih uang, dikata katain pakai bahasa kotor. Di lampu merah waktu naik motor, banyak tukang ngamen, setiap perempatan besar ada sekumpulan tukang ngamen, dan sering menggoda. Tidak terhitung berapa banyak pengalaman buruk disini.

    Padahal dandananku itu termasuk tomboy, pakai kaos, jeans, topi, tapi masih jadi sasaran.

    Kalau di Bandung, jangan sampai jalan kaki sendirian, jangan sendirian ke stasiun atau terminal, jangan naik angkutan umum. Jangan naik taxi, disini semuanya suka sengaja muter2, atau sengaja ke jalanan macet!
    Lebih baik naik grab atau gojek, kemungkinan jahat lebih kecil karena mereka menggunakan kendaraan pribadi, kalau ada yang kurang ajar, langsung cek aja nomor polisinya di situs samsat, langsung keluar data lengkap dia, laporkan ke polisi atau viralkan di twitter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *