pulang dari kampus

Kejadian ini saya alami pada tanggal 14 Maret 2017. Saat itu saya dalam perjalanan pulang ke rumah. Seperti biasa, saya selalu jalan ke arah halte TransJakarta melalui pintu gerbang utama karena disana banyak satpam disaat banyak orang nongkrong juga, jadi saya cari aman. Begitu saya keluar dari gerbang kampus, saya dihampiri seorang cowok bersepeda motor, dan dia memanggil nama panggilan saya yang hanya diketahui orang – orang dekat saya.

Saya kira dia adalah salah satu teman dekat saya, tapi ternyata bukan, lalu saya tanya “Siapa lo?”, Dia jawab “Masa lupa, ini B anak Ekonomi. Kita kan sudah pernah ketemu”. Saat itu saya berfikir, kebetulan saya memiliki teman yang sempat mengajak saya untuk bertemu dengan perkumpulan anak ekonomi, namun kebetulan saya tidak dapat menghafal wajah dan nama mereka satu per satu, jadi saya pikir dia memang teman dari teman saya.

Kemudan dia bertanya “Lo mau kemana?”, saya hanya menjawab saya mau cabut. Saat dia bertanya saya cabut kemana saya hanya bilang “Cabut ke Blok M” tanpa memberi tahu letak rumah saya, tapi B bilang kalau dia hendak pergi ke arah (…) yang B sendiri bilang kalau itu sejalan ke arah rumah saya. Saya kaget, kok B bisa tau rumah saya dimana. Dia menawarkan untuk mengantarkan saya tapi saya menolak dengan bilang saya sedang terburu – buru menjemput adik saya, saya capek sehingga berniat untuk naik bus TransJakarta sebelum jalanan macet. Namun, dia memaksa dengan bilang “Kalo searah ngapain naik TJ? Ini juga udah macet, mau sampe rumah jam berapa lo?”. Saat itu saya berfikir ada benarnya juga sehingga saya memutuskan untuk ikut.

Di awal perjalanan belum ada hal aneh yang terjadi. Motornya sempit sehingga saya berusaha menjaga keseimbangan, B bertanya “Lo ga mau pegangan?”, saya bilang ga perlu, dan memang saya kalau naik motor tidak pernah berpegangan. Dia terus memaksa dengan mengkhawatirkan keselamatan saya hingga dia bilang “Udah deh, pegangan beneran aja, kalo lo jatuh gw yang bakal trauma banget”

Akhirnya saya pegangan pinggangnya. Dia memegang tangan saya, saya bertanya “Bisa bawa motor cuma pake satu tangan?”. Dia bilang dia sudah biasa. Saya mulai curiga dan punya perasaan ga enak diasaat dia pegang tangan saya dan terus mengelus dan meraba jari saya. Lalu, pada saat putar balik di Bundaran Senayan dia meraba lutut saya, saya sempat marah dan teriak “Apa maksud lo pegang lutut? Mau apa lo?!”. Dia minta maaf.

Saat di belakang Senayan City, saya melihat kedua tangan B ada di stang motor, namun saya merasa seperti memegang sesuatu yang saya tidak tau apa, yang jelas bukan gesper, bukan gesper, bukan tangan. Saat saya melihat bahwa tas nya bergeser ke samping ke arah luar, saya baru sadar apa yang saya pegang, dan saya shock sekali! Tanpa pikir panjang saya tonjok kepala nya sambil memaki dia. Saya loncat dari motor, saya banting helm nya, dan saya keluarkan senjata saya yang biasa saya bawa sehari – hari. Saya sudah siap apabila dia akan menyerang saya. Saat saya hendak menghajar dia dengan senjata saya, dia malah memaki saya dan kabur dari motornya. Saya langsung lari ke arah Plaza Senayan. Pada saat berjalan ke arah PS pun masih banyak catcalls yang harus saya alami, padahal saya memakai celana panjang, jaket motor, dan masker sehingga wajah saya tidak terlihat.

Saya belum pernah berpacaran, saya tidak pernah bersentuhan dengan laki laki, sehingga saya tidak mengerti tentang seksualitas laki. Jadi, kejadian tersebut benar – benar memukul saya. Saya merasa sangat kacau dan dalam pikiran saya hanya satu,  yaitu berhasil sampai Senayan dan pulang. Pada saat masuk taxi saya langsung menceritakan hal tersebut kepada orangtua saya, sahabat, dan grup fakultas. Esokan harinya saya lapor ke satpam dan berhasil mendapatkan foto dari CCTV yang masih saya simpan. Yang sampai sekarang saya masih heran adalah bagaima orang tersebut bisa tau nama akrab saya, daerah rumah saya karena tidak banyak orang di kampus yang tau, hanya beberapa orang yang sudah pernah datang kerumah saja yang tau. Dia memang terlihat muda seperti masih mahasiswa, sehingga saya memang mengira bahwa dia teman saya.