Kejadian yang ‘Nyaris’

Jadi waktu itu, saya dan teman saya baru pulang dari sebuah seminar di Menteng Square. Saat itu pukul 4 sore, dimana waktunya jam2 sibuk sore hari. Ketika banyak orang mengakhiri aktivitas rutinnya pada jam2 segitu untuk pulang ke rumah, saya disana berdesakkan dalam busway bersama mereka. Saya menaiki busway dari Matraman ke arah Dukuh Atas, dengan tujuan pemberhentian stasiun Manggarai. Saat itu, saya terlalu lelah untuk untuk banyak memperhatikan dan terbilang lengah. Dan karena dalam posisi berdiri di busway yang agak sesak, sehingga terasa tidak nyaman, jadi saya mencoba berbincang dengan teman saya secara berhadapan agar waktu dijalan terasa cepat berlalu.

Saat itu saya terlalu larut berbincang, lupa busway semakin padat, sampai ada seorang ibu menepuk bahu saya cukup kuat, seperti menegur. Saya bingung, dan segera menoleh pada ibu itu. Wajahnya tidak enak dipandang, terbilang dia ingin memarahi saya karena sesuatu yang saya tidak tahu. Lalu dia berkata cukup keras,

“Mbak, majuan mbak!”

Saya melangkah maju sedikit karena kaget juga. Saya seketika bingung, kenapa ibu2 ini tiba2 membentak saya.
Saya pikir saya menghalangi jalannya turun, padahal kalau dipikir-pikir saya juga turun di halte selanjutnya.

Bingung dan tidak ingin menyinggung saya bertanya, “ibu mau turun ya?” Karena memang sudah mau mendekati halte selanjutnya, saya pikir dia memang mau turun, tapi dia malah menggeleng kuat dengan tampangnya yang bersikeras dia bilang, “Nggak,”

Teman saya pun juga ikut bingung, tapi dia tidak menaruh perhatian banyak, langsung mengajak saya bicara lagi. Sebenarnya agak kesal juga, ibu2 tadi tiba2 membentak tidak diduga, apa saya menginjak kakinya atau apa, pikir saya. Sekitar 10 menit, sampai di halte manggarai, kami berdua turun mengarah ke tempat tunggu busway arah stasiun. Tidak diduga ibu itu turun juga.

Air wajahnya tidak suka, bingung, dia menghampiri saya.
Lalu dia menegur saya,
“Mbak! Tau nggak mbak?! Tadi ada mas2 dibelakang mbak yang mau nempelin ‘anunya’ ke belakang mbak. Saya liat jelas, gerak geriknya, udah mau nempelin makanya saya langsung bentak mbak biar dia ga macem2! Saya suruh mbak maju, hampir aja mbak. Soalnya mbaknya pakai jilbab, jadi suka diarah! Makanya mbak dikasih tau orang tua dengerin!” Ucapnya panjang lebar, membuat orang2 dihalte menaruh perhatian, wajah mereka kaget, tapi tidak lebih kaget dari saya dan teman saya. Saya tidak lupa berterima kasih.

Sambil berjalan, kami larut dalam pikiran masing2 tentang kejadian yang ‘nyaris’ tadi. Yang masih kami heran, mengapa kami yang sudah berjilbab tertutup, masih saja jadi target pelecehan..