4 Tahun Lalu…

Pengalaman ini terjadi saat saya masih kuliah di Bandung, sekitar 4 tahun lalu. Saat itu saya mau pulang kampung ke Jawa dengan menggunakan bis umum dari Terminal Cicaheum. Bis yang akan saya naiki terbilang kosong. Saya pilih kursi di dekat jendela, yang mana kesukaan saya karena di bis saya sering tertidur. Beberapa saat kemudian ada mas-mas berkaos putih berusia 27-30an awal duduk di samping saya. Sebenernya saya agak aneh, karena di bis yang terbilang masih kosong (orang bisa mengambil kursi di dekat jendela) ia malah duduk di samping saya. Oh iya seat bis itu 2-2 jadi hanya punya dua pilihan windows seat dan aisle seat. Dan diantara yang kosong ada kursi yang aisle seat yang sampingnya laki-laki. Tapi mas-mas itu memilih di samping saya.

Singkat cerita sebenarnya saya tidak tahan di angkutan umum seperti bis karena mabuk darat. Saya mencoba tidur tapi tidak bisa, akhirnya saya menenggak obat anti mabok. Satu tidak cukup akhirnya saya minum dua. Kemudian saya tertidur. Saat saya tertidur saya merasakan badan mas itu seolah-olah menempel di badan saya. Lengan dia entah sengaja atau tidak menempel di dada samping saya. Karena saya cukup mengantuk awalnya saya pikir hal ini dikarenakan badan dia yang terlampau kekar untuk ditampung seat bis yang kecil. Saya pun bergeser meringkuk ke arah jendela. Tapi tetap badan dia makin mengekspansi wilayah saya. Positif thinking badannya memang kekar dan lebar, tipikal laki-laki yang suka nge-gym.

Barang bawaan saya cukup banyak, satu tas ransel besar dengan laptop saya pangku di kaki saya dan tas goodie bag kecil berisi makanan saya pangku di paha saya. Entah bagaimana tangannya merayap ke paha saya, lagi-lagi saya positif thinking dia tertidur dengan anggota badan yang tidak terkontrol, namanya juga orang ketiduran kadang suka tidak sadar. Tiap kali saya tepis atau berusaha merapatkan tas saya lalu tertidur lagi, saya terbangun lagi oleh tangan yang usil itu. Berawal dari lengan lama-lama ke paha. Saya mulai curiga dengan mas-mas tersebut.

Saya tertidur lagi kali ini lelap, di dalam tidur saya merasa paha di bagian dalam, yang dekat dengan daerah sensitif saya (tepatnya di bawah goodie bag saya) tersentuh oleh sesuatu yang digesek-gesek, seperti tangan. Saya tersontak kaget. Tangan itu pun pergi dari pangkuan saya, mas-mas tadi pura-pura tertidur. Saya merapatkan tubuh saya ke jendela hingga saya tidak benar-benar duduk. Saya yang mabok darat ini memaksakan untuk terbangun, terlebih jalanan sedang meliuk-liuk. Anehnya di saat saya terbangun itulah mas-mas itu tidak melancarkan aksinya. Dia tertidur anteng, dengan tangan bersidekap. Saya ketakutan, saya linglung saya pikir rabaan yang terjadi hanyalah mimpi saya semata. Saya tidak tahu harus bagaimana, mau melapor tapi tidak ada bukti, mau teriak terlihat sangat drama, saya hanya korban pelecehan yang ketakutan. Yang saya lakukan hanya defense dengan cara mendekat ke jendela.

Saya terjaga dan bermain handphone sampai ia sampai di tujuannya dan turun dari bus. Saat ia turun ia tersenyum menyeringai dan mengatakan terima kasih. Saya ketakutan. Saya merasa sangat bodoh jika mengingat hal tersebut, kenapa saya tidak melakukan sesuatu. Jangan-jangan pelaku berpikir saya menikmatinya sejatinya tidak sama sekali. Saya merasa dendam terhadap pelaku.

Kejadian itu terus membekas di kepala saya, sampai saat ini saya tidak mau duduk dengan pria asing lagi di bis. Sial-sialnya saya tidak mau benar-benar duduk berdempetan dengan pria. Saya bercerita dengan teman saya yang kebetulan mengalami hal yang serupa. Tapi teman saya tersebut berani untuk mengusir laki-laki tersebut di muka umum walau tidak ada bukti. Ini menjadi pelajaran untuk saya agar tetap berhati-hati terlebih di kendaraan umum. Beranikan dirimu jika merasa ada yang mengganggu privasimu, Walau tak ada bukti suarakan jika kamu tidak suka diperlakukan begitu. Karena penjahat kelamin seperti itu tidak akan berhenti melakukan sampai kita melakukan penolakan.