Yang Terburuk

Saya pribadi beberapa kali mengalami pelecehan di kendaraan umum. Namun ini ini adalah yang terburuk yang pernah saya alami. Ketika itu saya menaiki bis umum di jam pada saat pulang kantor untuk menemui teman saya, halte dalam keadaan yang sangat padat. Ketika mengantri untuk masuk ke bis karena menunggu penumpang lain yang keluar, saya merasakan ada sesuatu yg menyentuh bagian bokong saya. Saya mencoba berpikir positif mungkin saja itu barang bawaan orang di belakang saya, karena saya dalam keadaan terjepit bahkan untuk melihat ke belakang saya kesulitan.

 

Namun tiba2 aku bisa merasakan bahwa itu adalah telapak tangan yang mulai mengelus2 bahkan mulai maju hingga (maaf) bagian kemaluan saya. Saya sangat kaget dan ketakutan dan tiba-tiba desakan dari orang-orang di belakang saya mendorong sayang masuk ke bis. Saya mencoba melihat ke belakang saya untuk melihat siapa kira-kira perlakunya, namun saya tidak punya clue. Kemudian saya duduk dan ada seorang pria yg duduk di sebelah saya. Setelah apa yang saya alami saya merasa tidak nyaman duduk di sebelah pria, saya memilih pindah duduk di dekat kerumunan wanita.

 

Kemudian saat wanita yang duduk di sebelah saya turun, pria yang tadi duduk di sebelah saya pindah ke sebelah saya lagi. Saya makin ketakutan. Untunglah pemberhentian berikutnya adalah tujuan saya. Saya ingin segera turun. Ketakutan saya semakin menjadi ketika saya turun, pria tersebut ikut turun bahkan ikut turun dan membuntuti saya. Saya berlari kecil dengan setengah menangis sambil sesekali mengecek ke belakang dan priaitu masih mengikuti, ditambah keadaan jalanan yang saat itu sepi. Setelah sedikit berlari saya melihat sekelompok polisi dan segera saya ikut berjalan di belakang mereka. Saya cek ke belakang pria itu berhenti namun masih terus menatap saya hingga saya hilang dari pandangannya.

 

Saya terus mengikuti sekumpulan polisi tersebut hingga daerah yang cukup ramai baru kemudian saya menemui teman saya. Sepanjang jalan saya merasa apa yang salah dari saya ketika itu. Saya telah menggunakan busana yang sopan dengan hijab yang cukup menutupi bagian tubuh saya. Dan yang paling saya sedihkan ketika saya menceritakan pengalaman saya ke teman-teman saya, sebagian besar dari mereka hanya mengatakan saya bodoh, karena saya tidak berteriak atau mencoba melakukan sesuatu. Saya sedih karena mereka tidak tahu betapa menakutkan kejadian itu hingga saya tidak berani bersuara. Saya mengalami ketakutan yang sangat, yang membuat saya hingga saat ini pun trauma untuk naik kendaraan umum lagi jika bepergian sendiri.