UNTUK SEMUA LAKI – LAKI YANG PERNAH (DAN AKAN) MENGANCAM RUANG PUBLIKKU

Tulisan ini oleh Bry dan dipublikasi dalam zine: i hope you like FEMINIST RANTS


IMG_5931

Yang pertama, aku sedang berada di pantai. Kamu sembunyi – sembunyi memegang dadaku dari belakang. Itu terjadi sangat cepat hingga aku tidak percaya bahwa hal itu telah terjadi. Tapi hal tersebut nyata, karena bahkan setelah aku berhenti menangis dan membersihkan tubuhku, aku masih merasakan tanganmu ditubuhku. Aku merasa malu, dan aku tak tahu harus kemana, jadi ku sembunyikan saja perasaanku.

Yang kedua, aku sedang menyebrang jalan. Kamu datang mengendarai motor dari tikungan dan menyentuh dadaku sangat keras, yang rasanya seperti kau memukulku. Aku memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan rekan kerjaku, mereka bertanya : Baju apa yang kamu pakai? Dan mereka berkata Kamu seharusnya lebih berhati – hati. Jadi kututup tubuhku, dan aku belajar untuk membuat diriku semakin kecil.

Yang ketiga, aku sedang berjalan dengan teman – temanku. Kau datang dengan sepeda motor dan mencengkram dadaku. Dan, seperti kejadian sebelumnya, kau hilang sebelum ada yang tau harus berbuat apa. Suaraku tertahan di ujung tenggorokanku, aku ingin berteriak tapi tak tahu bagaimana. Aku layaknya binatang dalam kandang, disodok, dan dipecut. Dipaksa untuk mundur.

Yang keempat, aku sedang bersepeda. Sebuah turunan kecil memisahkan ku dari pasanganku dan kau menemukan kesempatan untuk menangkapku. Rasa malu yang sama kembali dan muncul dalam bentuk lautan air mata. Padahal, aku sudah berhati-hati, tapi kamu masih saja menemukan jalan untuk merendahkan harga diriku. Bahkan disaat seorang laki – laki menemaniku, aku masih menjadi target yang mudah.

Yang kelima, tiga minggu yang lalu, kau turun dari sepeda motormu, kau sembunyi di belakangku dan kau tarik ke bawah celanaku. Kau sentuh aku dan kau kabur.

Tapi kali ini berbeda.

Kau tahu, yang pertama, kedua, ketiga, dan keempat, semua emosi yang kurasakan pergi dan hilang ke suatu tempat. Mereka ku simpan dalam – dalam tersembunyi dalam tubuhku; mereka mengirimkan pesan kepada otot refleks dan pita suaraku. Aku tak pernah menyadarinya tapi seluruh kejadian tersebut menyiapkan ku.

Jadi kali ini, aku berteriak. Aku berteriak KENCANG.

Aku berteriak : Ini TUBUHKU, ini TUBUHKU, ini TUBUHKU, ku ulang – ulang, terus menerus, sehingga itu menjadi mantraku.

Aku mulai bicara. Aku sampaikan kepada teman – temanku. Aku melaporkannya kepada polisi. Aku tak dapat menemukanmu, tapi aku temukan suaraku.

Dengan suaraku, aku alirkan semua rasa maluku kepadamu. Pegang dan rasakan beban ini. Biarkan rasa malu itu menyeretmu jatuh sehingga kau tau seberapa parah dampak dari apa yang telah kau lakukan. Sehingga dimasa depan, disaat kau merasakan adanya sebuah kebutuhan untuk memanggilku di jalan – atau bersiul, atau menatap, atau mencoba untuk menyentuhku — pikirlah dua kali. Tidak penting seberapa kecil hal yang kau lakukan, hal tersebut merupakan usaha yang sama untuk mu merebut kekuasaanku atas tubuhku.

Kau mungkin akan berkata bahwa catcalling adalah hal kecil, hal yang seharusnya dapat ku lewatkan begitu saya. Kau mungkin juga bahkan akan mengatakan bahwa itu adalah pujian, Senyum! Aku katakan, jika kau hidup dalam cerita – cerita kami, kau akan berkata lain. Yang kau lakukan, tak peduli seberapa kecil, meninggalkan luka yang dalam dan traumatis.

Dulu aku tak menyadari, tapi sekarang aku mengerti. Kau membuatku lebih kuat, lebih garang dari yang aku kira. Setiap hari, perempuan sepertiku menemukan suara mereka dan mereka akan berteriak menuntut perubahan. Suara kita bertambah, dan jangan pernah kau remehkan kekuatan kami.

 

IMG_5932IMG_5933

This post is also available in: English

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *