Ada pria bermotor

Sosial menganggap pelecehan seksual selalu dikaitkan dengan penampilan yang menarik. Memang betul saya orang yang cukup suka fashion dan make-up, namun tentu tidak setiap saat. Pada waktu malam itu saya berencana ke Super Market menggunakan sepeda karena jaraknya tidak terlalu jauh. Dimalam itu saya berpakaian seperti lelaki, yaitu : celana panjang gombor, kaos, jaket gombor, topi dan rambut yang diikat dan kacamata. Tidak hanya itu bahkan bentuk sepeda saya adalah sepeda pria.
Di malam itu memang saya melewati jalan pulang yang tidak biasanya saya lewati. Saya mendapat jalan baru tersebut dari orang terdekat saya yang menginformasikan bahwa jalanan tersebut lebih aman karena banyak rumah, tempat les, dan sekolah. Memang benar ketika saya lewat jalanan tersebut masih lebih ramai dan terlihat satpam di beberapa tempat.
Siapa sangka tiba tiba saat dekat dengan pertigaan, disebelah kanan saya ada pria bermotor yang lewat dan meremas payudara saya. Bagaimana reaksi saya waktu itu? Kaget, bingung dan hanya terdiam serta tidak bisa berbuat apa-apa karena bila saya melawan saya bisa saja terjatuh atau masuk ke lubang yang ada disebelah kiri saya.
Setelah itu pria itupun kabur, efek selanjutnya adalah saya menangis sampai pulang dan payudara kanan saya merah dan bengkak selama sehari.
Entah mengapa ini sempat membuat saya minder dan malas keluar selama seharian, untung saja saat itu ada teman yang memiliki pengalaman yang sama dan berbagi cerita dengan saya sehingga membuat saya lebih lega dan santai untuk beraktifitas kembali.

 

Namun hal yang membuat saya sedih berikutnya adalah saya disalahkan atas kejadian itu oleh mantan saya. Ketika mendengar kabar saya terkena pelecehan seksual dari orang tua saya. Dia menelepon saya tiba-tiba dan malah berbicara dengan nada tinggi ‘Pasti kamu pakai baju yang terbuka !, atau kamu pakai baju ketat atau belakangnya ke angkat pas kamu naik sepeda!’ Baru saya ingin menjelaskan apa yang saya pakai di malam itu, tiba-tiba saya disela lagi ‘Ga mungkin, kalau engga gimana kamu bisa kena pelecehan ?’ dan dia melanjutkan memarahi saya tanpa memberi sedikitpun kesempatan saya berbicara.

This post is also available in: Indonesian