Korban penipuan

Beberapa hari yang lau saya menjadi korban penipuan melalui salah satu media chat online.
Seseorang yang mengaku-ngaku sebagai salah satu teman dekat saya yang seorang dokter menghubungi saya. Terlihat dari informasi dan foto profilnya, sampai dengan cara bicara dia saat menghubungi saya sangat meyakinkan dan membuat saya menjdai percaya bahwa itu betul teman saya.
Lalu dia mengatakan bahwa dia membuat akun baru hanyak untuk penelitian dan akan segera menghapusnya ketika penelitian itu selesai.
Saat itu dia katakan bahwa dia sedang melakukan penelitian tentang perbedaan gizi wanita yang belum dan sudah melahirkan. Lalu dia meminta bantuan saya untuk mengirimkan foto saya sebagai sample penelitiannya.
Awalnya, saya mengirimkan foto saya yang masih mengenakan baju, lalu dia bilang bagaimana cara dia menganalisis jika bentuk tubuh saya tidak terlihat. Awalnya saya menolak, dengan alasan saya malu dan harus meminta izin pada suami saya terlebih dahulu. Namun dia sedikit memaksa dan memohon, jika saya tidak bantu maka dia tidak bisa melanjutkan penelitian itu.
Akhirnya atas persetujuan suami saya, saya kirimkan foto saya yang masih menggunakan bra dan celana dalam karena saya merasa tidak enak pada teman saya. Sayapun seorang desainer grafis yang pernah diminta tolong oleh teman dokter saya yang lain untuk membuatkan poster penelitiannya yang mencantumkan foto alat kelamin pasiennya, jadi saya pikir hal itu adalah hal yang wajar dalam dunia kedokteran.
Setelah saya kirim foto saya, pelaku meminta saya kirimkan foto saya dalam keadaan telanjang bulat untuk menganalisis bentuk payudara dan miss v saya. Dari situ saya mulai merasa keberatan.
Saya minta tolong pada suami saya untuk telpon teman saya mengatakan bahwa dia keberatan istrinya mengirimkan foto tidak memakai baju lewat media online.
Disini kami mulai curiga, karena dia tidak mau mengangkat telpon kami dan mengatakan bahwa kuota internet dia tidak cukup.
Suami saya berinisiatif untuk telpon langsung ke akun temannya yang asli, dan betapa terpukulnya saya mendengar bahwa dia tidak pernah meminta foto orang dan tidak sedang melakukan penelitian.
Ketika saya bilang pada pelaku bahwa saya sudah tau dia adalah penipu, dia menertawakan saya dan mengancam akan menyebarkan foto saya.
Dia juga mengancam teman saya yang dicatut namanya akan menyebarkan semua foto korban yang sudah dia dapat.

Yang membuat saya marah adalah, pertama, teman saya yang dicatut namanya tidak ada keinginan untuk membuat laporan ke kepolisian karena berdasarkan pengalaman temannya yang lain yang pernah menjadi korban, tidak ada tindak lanjut dari yang berwajib. Kedua, setelah bicara dengan beberapa orang, ternyata modus ini sudah sering dilakukan di dunia fakultas kedokteran, namun yang menjadi pertanyaan saya, kenapa tidak ada yang menyebarkan berita ini sehingga saya tidak tahu dan sayapun ikut menjadi korban. Kenapa saya harus jadi korban dulu, baru saya tau ternyata modus ini sudah ada. Jika saya sudah pernah diberi tahu, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi pada diri saya.

Lalu, banyak respon yang berbeda ketika saya menyebarkan hal ini pada teman-teman saya, ada yang simpati, ada yang mencoba membantu, namun ada pula yang menertawakan, ada yang membuat bahan bercandaan dengan mengatakan ini adalah salah satu cara saya untuk menjadi tenar. Ada juga yang menyalahkan diri saya kenapa mau dan kenapa percaya. Dan hal tersebut membuat saya menjadi frustrasi dan akhirnya menutup diri. Bahkan saya jadi susah tidur, kehilangan kepercayaan pada orang dan masih trauma ketika mendengar bunyi notifikasi dan hp saya.

Disini saya mau mengajak sesama perempuan untuk tidak hanyak sekedar waspada dan berhati-hati pada diri sendiri, namun bisa lebih peduli terhadap kasus pelecehan pada permpuan. Mau untuk menyebarkan kasus seperti ini agar tidak ada korban lagi, mau untuk lebih menghargai perasaan korban, mau untuk membantu mencari jalan keluar, dan mau ikut bertindak ketika melihat ada korban yang sedang dilecehkan. Karena kita tidak pernah tau hal ini akan menimpa siapa, dan tidak perlu menjadi korban dulu untuk bisa sama-sama merasakan sakit yang diderita oleh korban.

Good luck, girls!

This post is also available in: Indonesian