PANDUAN SELF CARE BAGI KAMU YANG MENGALAMI PELECEHAN DARING

Post ini diterjemahkan dari the Heart Mob. Dari artikel yang asli, ada beberapa hal yang khusus untuk AS (khususnya yang terkait dengan penegak hukum), yang telah diedit dalam versi Indonesia. Kami merasa post ini sangat relevan dan penting untuk berbagi sehubungan dengan pelecehan online yang muncul setelah Women’s March Jakarta (dan lainnya di Indonesia). Jika Anda ingin mengutip posting ini, silahkan gunakan yang asli

 

Self care 30d126141eafbcdd73f081b3424cd5585de85f25e8ee4c8e1dc0123466dd6488 Panduan Self Care bagi Kamu yang Mengalami Pelecehan Daring (Online)

Kamu tidak harus menghadapi pelecehan daring (online) sendirian. Ajaklah sahabat, teman, keluarga atau orang lain yang peduli (kami menyebutnya HeartMobbers) untuk membantumu merekam/mendokumentasikan, melindungi, atau memberimu dukungan.

“Jangan menghakimi diri terlalu keras karena merasa begini atau begitu. Tak ada resep/aturan tentang bagaimana perasaanmu seharusnya. Tak apa jika kamu merasa terganggu, tak apa jika kamu merasa marah; bukan salahmu jika kamu merasa tidak cukup tangguh. Beragam emosi/perasaan bergulung membanjirimu saat ini dalam situasi ini. Jangan membendungnya. Luapkanlah.” —Zoe Quinn

Mengalami pelecehan daring (online harassment) bisa sangat melelahkan dan membuat kewalahan. Takut, marah, malu, mungkin hanya sebagian yang bisa dinamai dari emosi campur aduk yang kamu rasakan. Bahkan mungkin kamu mengalami gejala fisik seperti jantung berdebar-debar, mual, atau sulit tidur. Mungkin kamu merasa muak.

Dalam situasi ini, sangatlah penting mengambil waktu untuk merawat dirimu sendiri (take care of yourself!). Kita sudah sering mendengar anjuran untuk merawat diri, seperti: “Makan makanan sehat! Meditasi! Mandi berendam!” Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin membantu mereka untuk rileks/menenangkan dan menata diri. Namun demikian, kegiatan tersebut tak selalu terjangkau – atau berguna – bagi setiap orang. Lagipula, kegiatan itu tidak secara ajaib bisa melenyapkan tekanan dan rasa cemas dalam sehari.

Kami telah menyusun panduan berupa daftar saran dan sumber daya/bantuan untuk bertahan menghadapi pelecehan daring. Kami harap panduan ini bisa membantumu bertahan melewati masa sulit ini. Kita memiliki pengalaman unik masing-masing, juga kebutuhan dan harapan yang berbeda-beda. Tapi kami sungguh berharap dari panduan ini kamu menemukan sesuatu yang bisa membantumu mengambil jeda untuk menarik nafas dan merasa lebih baik, sekecil apapun.

 

  1. Bukan salahmu. you are not to blame.

    Pertama dan terutama, sungguh penting untuk mengerti bahwa pelecehan yang kamu alami di internet ini bukan salahmu. Kita semua berhak untuk hidup bebas tanpa pelecehan ataupun ancaman. Apabila kamu mengalami pelecehan daring, yang salah adalah si pelaku.

  2. Meminta bantuan. Ask for help.

    Jika kamu mau, bicaralah pada mereka yang dekat dan peduli padamu – entah itu keluarga, sahabat, terapis, atau pengacara. Jika kamu bingung tentang bagaimana menjelaskan pelecehan daring kepada orang lain yang mungkin tidak begitu paham teknologi, kamu bisa coba mencari tips atau panduan cara menjelaskan lewat Crash Override Network’s Guide to Talking to Family. Tak apa jika kamu merasa rapuh, membutuhkan dan menginginkan dukungan dari orang-orang terdekatmu. Kadang kala, mengungkapkan dan membicarakan hal ini dengan seseorang yang percaya dan bersedia mendukungmu bisa mengubah banyak hal.

    Salah satu cara terbaik untuk memperoleh dukungan yang kuat adalah dengan mengulurkan tangan kepada satu atau beberapa sahabat dan meminta mereka menjadi pendukungmu sekaligus membantu merawatmu. Ceritakanlah kepada mereka mengenai apa yang kamu rasakan ketika kamu mulai mengabaikan/menelantarkan dirimu sendiri. Minta mereka untuk mengawasi dan mengingatkanmu manakala mereka melihatmu mengalami masa sulit. Tanyakan juga apakah kamu bisa membantu dengan memberikan dukungan kepada mereka. Cobalah mendekatkan dirimu dengan teman/orang-orang yang saling mendukung dan menjaga.

     

  3. dokumentasikan. Document it.

    Mengambil langkah praktis dengan melaporkan pelecehan daring yang kamu alami dapat membantumu mengambil kendali atas situasi. HeartMob ada di sini untuk menemani/mendampingimu menjalani proses dokumentasi ini. Jika pelecehan terjadi di media sosial, kamu bisa melaporkannya ke perusahaan penyedia dan pengelola layanan media sosial tersebut. Kebanyakan perusahaan penyedia dan pengelola layanan media sosial tidak akan mau menerima cuplikan gambar dari layar sebagai bukti pelecehan (untuk informasi lebih lanjut mengenai syarat dan ketentuan pelaporan tiap situs). Tapi jika kamu ingin melaporkan pelecehan yang kamu alami kepada polisi, cuplikan gambar akan diminta sebagai bukti.

    Baik Windows maupun Mac punya sistem cuplik gambar (screen capture) yang bisa kamu gunakan untuk mengumpulkan bukti-bukti yang kamu butuhkan. Jika menurutmu mengumpulkan bukti dari cuplikan gambar di layar adalah ide yang bagus, mintalah bantuan sahabat, pasangan, atau orang terdekatmu untuk membantu. Media sosial yang tidak menerima bukti berupa cuplikan gambar cenderung memilih tautan (hyperlink) ke saat pelecehan terjadi – tapi ingat juga, tautan bisa dihapus/diturunkan dari situs; jadi sebaiknya kamu punya tautan maupun cuplikan gambar untuk jaga-jaga.

  4. bersuara. Speak out.

    Jika kamu bertanya-tanya apakah kamu seharusnya balas pada pelaku/orang yang melecehkanmu, tak ada jawaban pasti. Pada akhirnya, pelaku punya tanggung jawab untuk tidak melecehkanmu, dan bukan tanggung jawabmu untuk menanggapi secara pantas/layak. Penelitian menunjukkan bahwa ‘melawan kembali’ dapat mengurangi trauma jangka panjang. Ini pilihan pribadi (sangat personal), dan hanya kamu yang tahu bagaimana kamu ingin menanggapi (pelecehan yang kamu alami) serta mana pilihan teraman/paling aman buatmu. Jika kamu merasa mantap untuk mengungkap pelecehan yang kamu alami, memilih untuk retweet, mengirim surel (email) ke jurnalis dan aktivis, serta membuatnya viral bisa jadi ide bagus. Mengungkap pelecehan yang kamu alami bisa jadi salah satu cara untuk membuatmu merasa mengambil kembali kendali atas hidupmu, asal/sejauh kamu merasa tenang/mantap/nyaman mengangkat/membicarakan pelakunya.
    HeartMob juga menyediakan ruang untuk kamu berbicara mengungkap dan melaporkan pelecehan yang kamu alami serta mengendalikan ceritamu (saat ini baru ada dalam bahasa Inggris). Jika kamu memilih untuk mengungkap pengalamanmu kepada publik, kamu pun akan bisa memilih beragam cara tentang bagaimana HeartMobbers mendukung, beraksi, atau campur tangan. Ini merupakan kesempatan bagus bagimu untuk bicara secara terbuka mengenai pengalaman pribadimu di tengah komunitas yang saling menjaga dan mendukung.

     

  5. Berbpikir panjang. Think longer term.

    Luangkan lima menit, ambil jeda untuk berpikir dan menimbang pegaruh positif dan negatif dalam kehidupanmu ke depan. Pikirkan hal-hal yang memberimu kekuatan dan membuatmu bersemangat (enatah itu di ranah internet, dalam pekerjaan, dalam hubunganmu dengan orang lain). Lalu pikirkan hal-hal yang menyedot/menguras energimu. Jujurlah pada dirimu sendiri tentang apa yang begitu melelahkanmu – dan coba renungkan apakah ada solusi untuk pengalaman negatif yang melelahkan ini. Mungkin kamu bisa membuat perubahan untuk menghindari urusan yang menguras energimu; atau jika perubahan itu tidak mungkin/sulit, isi dirimu dengan energi positif saat kamu tahu bahwa kamu harus menghadapi hal negatif ini. Menggumamkan kalimat positif seperti ‘Aku aman dan baik-baik saja. Semua baik adanya.’ atau ‘Aku percaya pada diriku.’ ketika kamu merasa gelisah dapat menambah energi positifmu dan membantumu tetap tenang mengatasi situasi pelik atau masa sulit. Luangkan waktu untuk berjarak dan mengendapkan perasaaanmu (meditate), lalu susunlah strategi untuk menghadapi masalah yang telah menggerogotimu.

     


    Bisa baca lebih lanjut tentang Heart Mob di iheartmob.org atau di twitter @theheartmob, atau IG @heartmob

    Kalau kamu punya resources tentang pelecehan daring dalam bahasa Indonesia, tolong email ke kami atau post di bagian comments.

 

 

This post is also available in: English

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *