A Poor Syari’a Girl

Waktu itu saya pulang naik TJ Pulogebang-Rawamangun. Saya duduk di deretan bangku belakang supir. Di depan saya berdiri seorang perempuan (18-25 tahun) yang berdiri ke arah jendela kanan bis.

Saat tiba di tempat pemberhentian lain, ada pria (45-50 tahun) yang naik dan berdiri membelakangi perempuan. Dia berdiri ke arah jendela kiri.

Awalnya saya merasa biasa saja dan pandangan saya terfokus ke jalanan. Tapi saya merasakan ada yang aneh dengan si wanita. Wanita itu terlihat tidak nyaman dan sering menengok ke arah belakangnya (pria). Sesaat kemudian, saya menyadari bahwa bagian belakang wanita ditempel dan digesek dengan bagian belakang pria itu.

Padahal masih ada cukup ruang bagi pria untuk memajukan badannya agar tidak bergesekan dna bertempelan. Sedangkan si wanita tidak mempunyai cukup ruang untuk memajukkan badannya, dan sulit juga untuk berpindah posisi karena keadaan dalam TJ yang penuh saat sore itu. Sudah jelas ini memang disengaja oleh pria.

Awalnya saya sangat ingin sekali berteriak dan memarahi pria, tapi badan saya cukup bergetar dan saya merasa ketakutan. Satu-satunya yang saya berani lakukan adalah dengan mengeluarkan pensil tajam saya dan memasukkannya ke ujung kiri Tote bag. Karena sepanjang perjalanan, betis pria ini menyentuh tote bag kiri saya.

Ketika kendaraan di rem mendadak, betis si pria tergesek ujung pensil. Saya menyadari kesakitan yang dia rasakan. Dia pun berbalik badan ke arah saya.

Ternyata belum berakhir, sempat saya lihat dari ujung mata kiri, dia menurunkan zipper celananya. Belum sempat dia memamerkan, entah kenapa dia malah menutup dengan tas laptopnya. Saya menduga bahwa dia sedang diperhatikan oleh petugas TJ.

——————————————————————

Untuk kalian yang penasaran dan berprasangka dengan apa yang dikenakan wanita tadi. Dia berhijab syar’i (menutupi dada), bergamis, dan memakai masker penutup mulut.

This post is also available in: English