Bingung campur marah

was walking dari coffee shop ke kantor sehabis meeting untuk personal project, kind of saw this coming but was alone and a group of mas mas nongkrong wolf-whistled at me. nothing too unusual, tipikal catcalling yang sering terjadi.

tapi setelah itu langsung bingung campur marah, berpikir kenapa gak tadi aku call out aja gitu; berlapis lapis skenario di otakku muncul.

skenario 1: aku confront seorang diri, dengan bilang “mas, itu gak sopan”, lalu mereka teredukasi sedikit dan jika beruntung bahkan meminta maaf.

skenario 2: aku gabung dengan ibu warung sebelah untuk confront, lalu mas mas tersebut dimarahi ibu warung dan lalu tidak pernah melakukannya lagi.

skenario 3: aku keluarkan hp dan merekam kejadian tsb.

but of course, yang terjadi adalah aku hanya senyum dengan ibu warung, diam, dan jalan terus.

bingung karena kalaupun aku call out, apa iya mas mas tersebut akan mengerti, teredukasi, dan tidak akan melakukannya kembali kepada orang lain? atau apakah mereka malah akan agresif dan pada akhirnya memperburuk situasi?

lalu terpikir, mudah sekali berkata tidak dan berkoar-koar anti sexual harassment until it happens to you. mau berapa kali pun terjadi masih saja beku. aku bahkan sampai merasa munafik karena dalam keseharian aku selalu mengadvokasi dan mengedukasi against sexual harassment dan bahkan status whatsapp ku “cats against catcalls” but when it actually happens to myself i always cease to do anything about it. the momentary trauma is real.

oh and. this all happened JAM EMPAT SORE. relatively terang benderang 🙂

f*ck misogyny and sexist acts. sekecil apapun perbuatannya, just don’t do it. it screws people’s brains a lot.