satu dekade yang lalu

Sekitar lebih dari satu dekade yang lalu, saat itu saya (kalau tidak salah) kelas 5 SD. Waktu itu pulang sekolah, ketika turun angkot di dekat rumah, ada sekelompok anak laki-laki tak dikenal (3-4 orang) yang kelihatannya lebih tua-tapi hanya- beberapa tahun dari saya, tampang anak SMP kelas 1 gitu deh. Sesaat setelah bayar dan angkot pun pergi, ketika saya berbalik badan dan hendak melanjutkan langkah, salah satu anak laki-laki tersebut mencolek pipi saya. Jujur, seketika saya cuma bisa ngerasain takut dan marah plus rasa jijik. Iya, jijik, “cuma” pipi, tapi saat itu saya ngerti: itu pelecehan!

Saya yang masih SD nggak bisa ngapa-ngapain lagi saat ternyata aksi mereka berlanjut manggil-manggil nama saya. Iya, nama, karena seragam SD saya wajib pakai ‘bet’ nama. Sampai rumah, saya cuma bisa diem di kamar. Keesokan harinya dan beberapa hari seterusnya, selalu ketika saya lewat tukang bensin pinggir jalan dekat rumah, yang jaga itu selalu siul-siul sambil manggil nama saya meski saat saya lagi nggak pakai seragam SD. Artinya, para bocah keparat itu adalah tukang bensin di situ dan mereka inget muka dan nama saya! Waktu itu sih, karena saya juga masih bocah, cuma bisa ngayal dan ngomel dalam hati -tanpa bercerita ke siapa pun.

Untungnya, ketika saya beranjak SMP alias beberapa tahun kemudian, itu warung bensin entah bangkrut apa gimana, nggak jualan lagi -di situ -hingga sekarang.

Yang mau saya tekankan di sini, pelaku pelecehan nggak cuma orang dewasa -bahkan sejak jaman internet belum berkembang seperti sekarang. Anak-anak (apalagi anak baru gede alias ABG) sangat berpotensi jadi pelaku. Kalau mau analogi ‘kucing dan ikan asin’ di kasus saya di atas, saya kasih tahu aja, soal seragam sekolah saya selalu membeli dan memakai rok di bawah lutut dengan kaos kaki hampir full sebetis, dengan kemeja yang proporsional (bukan yang jangkis gitu lah). Ibarat seragam anak cupu pada jamannya lah. ‘Ikan asin’ dari mana coba ya kan? Emang bejat aja itu ABG. Mereka berani berbuat sama yang lebih muda dari mereka. Entah keracunan dari mana (kalau mau nyalahin internet kan saya bilang tadi, waktu itu internet belum seperti sekarang). Artinya, memang sex education dan pendidikan moral itu sangat penting sejak dini.