sekitar 2 tahun lalu

hal-hal ini saya alami sekitar 2 tahun lalu, ketika saya masih berumur hampir 13 tahun. saya baru berani menceritakan karena saya malu dan merasa bersalah, saya tidak tahu harus bercerita ke siapa, takut dihakimi. Cerita-cerita ini adalah pengalaman pelecehan yang paling saya ingat dari pengalaman pelecehan lainnya yang sayangnya masih banyak.

Saya berseragam lengkap dengan kerudung duduk di bangku pojok di bus dari Ciputat ketika berangkat ke sekolah, ketika ada pria bertubuh besar duduk di sebelah saya. Tak ada rasa curiga satu pun. Saya tertidur karena mengantuk sampai akhirnya saya terbangun karena merasa sesuatu menghimpit saya, rupanya pria ini mencoba mendorong saya hingga terpojok dan membatasi ruang gerak saya. Ia lalu pelan-pelan mencoba meraba paha saya, yang mana saya tidak bisa berlaku apa-apa karena ruang gerak saya sgt sempit, saya akhirnya mendorong balik dan kejadian berulang sampai saya di tujuan, ketika saya ingin turun dari bus, pelaku tdk membolehkan saya keluar dari bangku dengan menghalangi jalan dengan tubuhnya walau saya sudah mengatakan permisi berulang kali. Saya pun menerobos dan berhasil keluar, dengan cepat ia menyambar dan menarik tangan saya, dan saya menjadi marah dan menarik kembali tangan saya. Saya berhasil lolos.

Dengan pakaian yang sama di kesempatan berbeda, saya hendak pulang sekolah dengan bus, seperti biasa saya duduk di pojok karena ingin tidur, yang mana ada bapak ini duduk di sebelah saya. Saya tertidur kembali dengan posisi memeluk tas untuk menutupi dada, dan ditengah perjalanan saya terbangun karena macet dan panas. Ketika saya terbangun, bapak ini menaruh tas nya di pangkuan dengan posisi tangan melipat depan dada. Lama-lama, saya merasa ada yang mencoba menyentuh dada saya dari samping, ternyata tangan bapak yg melipat ini perlahan-lahan mencoba meraba dada saya, saya pun reflek menghindar dan tdk bisa berkata apa-apa, rasanya ingin marah, teriak, tapi tak bisa. Selanjutnya tangan bapak ini di bawah tasnya dan mencoba meraba paha saya! Saya sangat marah ketika ia masih mencoba melecehkan saya, saya berkata “awas pak tangannya” dan ia menjawab “eh?iyaiya” lalu pura-pura tidur.

Masih dengan seragam sekolah dan kerudung, saya dalam perjalanan pulang sekolah dengan bus jurusan yang sama pula. Tapi kali ini saya duduk di bangku pinggir karena tidak dapat di pojok. Alhasil saya tdk bisa tidur, saya duduk sambil menahan kantuk. Karena bus ini selalu penuh, ada penumpang yg berdiri, bapak ini berdiri di samping saya. Awalnya saya tidak merasa apa-apa, sampai ada sesuatu yang rasanya menempel dan agak menonjol di lengan kiri saya, saya pun reflek kaget dan geli. Saya tidak tahu itu apa, sampai akhirnya berulang beberapa kali dan saya akhirnya tahu bahwa bapak yang berdiri di samping saya menempelkan kelaminnya ke badan saya dan “menggeseknya”. Saya takut saya salah perasaan atau lihat, tapi saya yakin ada sesuatu yang tdk beres. Saya sangat sangat sangat tidak nyaman dan mencoba mengubah posisi duduk dengan menjauhkan badan saya dari bapak ini, namun ia tetap mengikuti badan saya. Saya sangat sedih dan kaget juga bingung, saya ingin teriak tapi takut dikira mencari perhatian. Saya tdk kuat dan saya akhirnya memutuskan pindah tempat duduk.

Semua kejadian saya alami ketika memakai seragam dan kerudung di usia 13 tahun.

Takut, malu, marah, sedih, bingung, merasa bersalah, gemetar. Itulah yang harus saya rasakan ketika terbesit pengalaman-pengalaman tersebut. Masih banyak lagi cerita saya sampai di usia 15 tahun ini, diikuti, disiul, ditempel bagian privat, saya mencoba berdamai dengan pengalaman tersebut walau nyatanya saya masih malu untuk menceritakannya ke keluarga atau teman, maaf saya belum berani tegas pada pelaku, saya bingung sekali. Saya takut pelaku menyerang saya kembali atau lainnya. Tapi, saya yakin, semua orang terutama perempuan berhak merasa aman ketika di transportasi umum atau dimana pun. Terima kasih telah memberi ruang pada korban seperti saya dalam menceritakan pengalaman-pengalaman ini. You doing a really great thing.

– With courage, N.