SD

provinsi Aceh. Saya mengalami pelecehan seksual pertama kali ketika berumur 7 tahun, sekitar kelas 1atau 2 SD, dilakukan oleh teman sekelas saya sendiri (dengan usia yang sama saat itu). Dia kerap kali memegang kemaluan dan dada saya. Pada saat itu saya shock, karena saya tidak tau apa yang sedang dia lakukan, tapi saya merasa kalau hal itu tidak wajar untuk dilakukan. Pada beberapa kesempatan, hal itu sempat disaksikan oleh beberapa guru, dan bahkan pernah dilihat oleh orang tua dari anak tersebut. Guru-guru yang melihat, tidak mengambil tindakan apapun, dan tidak mengatakan apapun! Ketika mereka melihat hal itu dilakukan kepada saya, mereka berlalu begitu saya tanpa menghiraukan apa  yang terjadi. Pada suatu kesempatan, orang tua teman sekelas saya itu datang ke sekolah untuk menjemput anak tersebut, dan ketika anak tersebut berjalan ke arah orang tuanya (posisi kendaraan orang tuanya dan tempat saya berdiri hanya berjarak sekitar 3 meter) dia dengan gampangnya memegang dada saya di depan orang tuanya! Saya sangat shock, dan reaksi orang tuanya jauh lebih mengejutkan saya lagi. Orang tuanya tertawa. Tertawa seakan hal tersebut adalah hal yang wajar. Dan saya harus bertemu dengan orang yang telah melakukan itu kepada saya SETIAP HARI selama 6 tahun. Bagaimana bisa masyarakat kita ini menganggap wanita sebagai manusia, jika sejak umur 7 tahun saja anak laki-laki sudah dibebaskan untuk melakukan pecelehan seksual seperti ini dan telah dibiasakan untuk menganggap lawan jenisnya sebagai objek seksual.