pelecehan di sekolah

Entah sudah berapa kali saya bercerita disini. Karena saya tidak tau harus bercerita dengan siapa. Mereka menganggap ini hal yang lumrah, “jadi wanita ya itu resikonya”. Oh god, siapa yang bisa milih.
Di kelas , aku punya temen yang suka sama aku, perkiraanku dia hanya suka dengan tubuhku alias dia hanya mengikuti hawa nafsu nya, beberapa kali aku sudah dipegang olehnya.
Waktu itu aku berdiri akan menuju ke kantin, dia berjalan dari belakang mau menyalip aku, telunjuknya menyentuh dada bagian samping, aku teriak, mungkin menurutnya itu hal yang memuaskan jika aku teriak.
Dilain waktu, memang tubuhku kecil tapi lumayan subur di kalangan anak 16 th seusiaku, di kelas aku sering dijuluki “bocah kecil” tp seseorang berkata “iyo cilik, tapi anune gedi (iya kecil, tapi anunya gede)” aku malu, padahal pakaian seragamku longgar, jilbabku menutup dada.
Dilain waktu, ini pelecehan di sekolah ya guys, waktu itu aku sudah selesai dari organisasi PMR, aku mengambil tas di kelas, saat aku mau keluar untuk ke parkiran motor, ada dua kakak kelas (kelas sebelah) berdiri di depan pintu (ini aku lagi sendirian didalem kelas) mereka bilang “arep metu?(mau keluar?)” tangannya dia itu membentang (tidak membolehkan aku keluar, tapi tangannya agak direndahkan, yang memungkinkan jika aku menabrak tangannya, itu tepat mengenai dada) teman satunya jongkok dibawah (aku mau menerobos lewat bawah juga ngga bisa) keadaannya sepi, kelasku deket parkiran jadi pojok banget, kelas kakel nya ada di samping kelasku tepat. Aku cuma diem, bingung mau ngapain, seorang dari mereka ngomong lagi “ayu ayu kok bisu (cantik cantik kok bisu)” dengan memberanikan diri aku ngomong “iyo,aku arep metu, ndang ngaleh (iya, mau keluar, cepet minggir)” dan yng buat aku syok adalah “podo,aku yo wis metu, arep ndelok? (sama dong, aku juga udh kluar, mau liat?) ” (sambil menatap ke arah celananya) gilak sih, rasanya aku takut, gemeter, mau nangis. Aku diem, bener bener mematung di kelas, mau telfon tapi hp ku lowbat. Yang jongkok ngomong lagi “nyapo meneng ae neng kono, wes kene metu(ngapain diem aja disitu, udah sini keluar)”. Untung Allah masih melindungiku, pak satpam datang untuk mengunci pintu, saat pak satpam datang, kakel itu pergi dan aku lari untuk pulang dengan syok yang sangatt