Seorang siswi SMA di kota metropolitan

halo, ini saya.

murid SMA perempuan yang 5 hari dalam satu minggu pulang pergi ke sekolah dengan transportasi publik.

karena faktor jarak yang lumayan jauh, saya terpaksa berangkat subuh-subuh agar tidak terlambat. terhitung jam 5 kurang 20 menit, saya harus bergegas.

impian saya banyak, harapan saya penuh, cita-cita saya pun tinggi. hampir tiap saya pergi ke sekolah, saya ditemani pengorbanan untuk mewujudkan impian saya. dan ketika saya pulang ke rumah, saya dikawani rasa lelah namun lega karena telah melalui hari.

terkadang, saya bahkan tak sempat liat matahari, karena pergi sekolah gelap, dan pulang pun gelap. liat matahari sekadar di sekolah.

dengan penuh impian, saya berangkat ke sekolah mengenakan seragam dan kerudung segitiga.

namun,

kenapa? kenapa masih ada orang yang menghancurkan perasaan saya?
saya cuma pelajar dengan tekad yang besar, yang berani melawan gelapnya pagi untuk sampai di sekolah.

mengapa? mengapa masih ada bapak-bapak yang nampaknya seorang pendidik, malah mengajak bicara tentang kehidupan pribadi saya di angkutan umum lalu menaruh tangannya di atas paha saya dan mengelusnya seolah itu hal normal?

mengapa? mengapa masih ada laki-laki yang berani berpura-pura tidur disebelah saya sedangkan tangannya menyentuh dada saya?

mengapa? mengapa masih ada pria kantoran yang membatasi ruang gerak dan meraba paha saya lalu menyergap tangan saya ketika saya berusaha menghindar?

mengapa masih ada laki-laki yang sepulang dari masjid setelah shalat subuh yang bersiul-siul ke saya?

dan yang paling penting, mengapa masih banyak teman-teman saya lainnya yang mengalami hal yang sama?

dan bagaimana orang-orang sekitar kami dapat menanggapi nya seakan kami yang salah? seakan kami yang mau diperlakukan seperti itu karena tidak melawan? seakan itu “gak sebegitunya kok” seolah “emang cuma diapain sih?”

saya itu pelajar. teman-teman saya pun begitu.
kami pelajar yang penuh harapan dan impian. kami pelajar yang tekadnya kuat. kami pelajar yang akan membawa bangsa ini di masa depan.

kok mereka tega sih menghancurkan martabat kami sebagai pelajar?

dan untuk para pelaku pelecehan,

kok anda bisa tega?

tertanda, seorang siswi SMA di kota metropolitan.

– N