Guru Ngaji

Saat saya kelas 5 SD sampai 6 SD, saya dulu ikut mengaji di masjid dekat rumah saya. Ketika nama saya dipanggil untuk membaca, guru saya seringkali menyuruh saya untuk duduk di samping dia. Posisi kami tertutup meja. Selagi saya membaca, di hari tertentu dia meraba celana dalam saya (saya menggunakan gamis) dan di hari lainnya dia menelusupkan tangannya ke dalam kaus dalam saya dan meraba dada saya. Saya tidak melawan. Tidak tahu bagaimana untuk melawan. Di sana banyak murid lain, tapi saya tidak yakin apa mereka melihat. Yang bisa saya lakukan hanyalah setiap kali saya berangkat mengaji saya menumpuk baju demi baju di bawah gamis saya agar ia kesulitan untuk meraba. Seringkali saya pura-pura salah membaca agar ia fokus dalam membetulkan bacaan saya ketimbang meraba saya. Tapi tetap saja masih bisa dia lakukan. Saya jadi malas mengaji, justru semakin jauh dari Tuhan di umur yang masih muda, saat SMP hingga sekarang tidak lagi percaya bahwa orang Muslim itu semuanya baik. Mereka bisa sembunyi dalam kedok agama. Saya tidak pernah cerita ini kepada orangtua saya. Ketika 6 SD mendekati UN saya memaksa mama saya untuk sama sekali tidak ikut kegiatan mengaji di masjid, bilang bahwa saya tidak suka baca Al-Quran di masjid karena saya tidak suka bersosialisasi dengan anak-anak di sana dan berkata lebih baik saya les setiap hari agar bisa mendapat nilai bagus untuk Ujian Nasional. Akhirnya mama setuju dan sampai saat ini saya tidak pernah mengaji di masjid lagi. Untuk menggantikan jadwal mengaji saya di masjid mama saya mengundang ustadzah, saya merasa lebih aman mengaji di rumah. Saya tahu guru saya itu masih mengajar di masjid hingga saya SMP, tapi tidak tahu apakah dia melakukan hal yang sama dengan anak lain. Sekarang saya kelas 3 SMA, saya tidak pernah menangis karena kejadian ini, saya lupa, mungkin pernah. Saya sejujurnya sudah lupa dengan kejadian ini karena bertahun-tahun saya mencoba untuk bilang kepada diri saya bahwa kejadian ini tidak pernah terjadi.

This post is also available in: English