Di KRL penuh

Waktu itu lagi buru-buru pulang kantor, krl penuh dan nggak keburu ngejar gerbong khusus wanita. Karna kondisi penuh, posisi saya berdiri berdesakan dengan penumpang lain yang mayoritas pria, walaupun saya sudah sebisa mungkin berusaha menjaga jarak. hari itu saya pakai ransel besar di depan badan dan berjaket tebal, biasanya cukup ampuh untuk mempertahankan sedikit personal space di keramaian.
Tadinya saya masih menganggap maklum bapak2 yang posisi berdirinya sangat dekat di belakang saya, mungkin memang gerbong terlalu penuh. Tapi lama-lama bapak di belakang saya makin aneh, saya merasa bapak itu mulai tidak wajar menempelkan bagian tubuhnya ke pantat saya. Saya kaget, berusaha menoleh ke belakang dengan maksud menegur dan memastikan (semoga saja) itu tidak disengaja dan mungkin disebabkan padatnya penumpang sampai saya pun terhimpit antara tiang dan bapak itu, beliau hanya buang muka seolah tidak ada apa apa. Tapi anehnya setiap kereta berhenti dan ada penumpang turun, bapak itu tidak bergeser atau berusaha merubah posisi, malah saya merasakan kemaluan bapak itu semakin rapat menempel ke pantat saya setiap kali kereta berguncang, sementara badannya ditarik kebelakang sambil berpegangan handel kereta, sehingga sekilas mungkin terlihat dari pinggang ke atas orang tersebut ada dalam jarak yang normal untuk ukuran gerbong yang memang padat, padahal yang mungkin tidak terlihat adalah sebagian badannya benar-benar menempel ke bagian tubuh belakang saya, terutama di area pinggang, bahkan sambil digesekkan. Saya syok, panik, takut, setengah tidak percaya, berusaha menghindar tapi badan sudah terhimpit sampai susah bergerak, mau menoleh dan marah langsung ke orang tsb terlalu takut. Saya menengok kiri kanan berusaha mencari bantuan penumpang lain yang mungkin sadar ada yang aneh, tapi rasanya orang-orang tidak ada yang memperhatikan, atau mungkin menganggap itu normal. Saya ingat ada seorang laki-laki di dekat pintu yang bertemu mata dengan saya, sepertinya sedang mengamati kami, memandang saya, dan tidak berbuat apa apa. Rasanya pengen teriak sekeras-kerasnya dan kabur secepatnya tapi saya terlalu takut sampai badan rasanya kaku, lemas, nggak tau harus berbuat apa.

This post is also available in: Indonesian