menggali memori yang memang enggak bakal bisa hilang

Kekerasan seksual memang tidak mengenal indikator-indikator tertentu untuk memilih korbannya. Hampir mustahil kiranya ada seseorang yang tidak pernah mengalami kekerasan seksual. Yuk, menggali memori yang memang enggak bakal bisa hilang.
1) Pertama kali aku mengenal adanya kekerasan seksual ketika SMP. Untuk pertama kalinya mengalami dan kejadian ini membuat trauma sebenarnya. Saat itu, aku dan teman-teman yang sedang berjalan santai di jalan yang memang sepi, siang hari, tiba-tiba ada seorang pengendara motor yang memperlihatkan pisangnya (eww). Tidak sampai di situ, aku refleks ngatain “Asu!” Sementara, teman-temanku lari wkwk. Enggak lama, si pengendara itu pegang pergelangan tanganku dan ngeraba bagian dada. Setelahnya, aku dan teman-teman nangis bersama-sama. Parahnya, saat aku cerita ke keluarga, mereka cenderung menenangkan saja. Ya, ternyata memang tidak ada payung hukumnyakan? Yasudah, peristiwa itu aku sendiri yang mengubur, aku sendiri yang berusaha untuk enggak ingat-ingat, tapi memang tidak bisa untuk lupa.
2) Masih di sekolah menengah pertama nih, ada momen saat aku dan guru Matematika di perpustakaan sekolah. Saat itu, memang kondisi lagi-lagi sepi, guru itu memegang paha. Seriusan, rasa enggak nyaman masih terasa sampai sekarang. Apa aku cerita kepada teman/ kelaurga? Ini pertama kalinya aku membuka suara, di sini.
3) Catcall, kalau untuk poin ketiga ini bisa dikatakan “sering”. Terlebih saat malam karena dulu pernah bekerja dengan jam pulang malam. Padahal pakai helm, masker, jaket, hijab, catcall yaa tetaplah ada. Oh, tapi tidak hanya malam, siang bolong pun bisa. Dengan keadaan yang sama, hijab, masker, jaket, dan dia atas motor. Ada dua orang berboncengan siul-siul tidak jelas. Kalau masih ada yang bilang “masa siul, kedip-kedip” pelecehan, perlu dijawab pakai ngegas sih, “ya iyalah”.
Mungkin yang kualami tidak seberapa dibandingkan teman-teman lainnya. Aku enggak sendiri, kita enggak sendiri. Yuk, kita bersama-sama satu suara untuk #SahkanRUUPKS.

This post is also available in: Indonesian