waktu aku masih koas

Sejujurnya aku udh nahan2 ini beberapa tahun. Kejadiannya waktu aku masih koas bagian penyakit dalam di suatu RS Pemerintah di kota Jakarta. Aku dilecehkan sama konsulen aku, dimana dia adalah seorang dokter konsulen yang memiliki pangkat juga di suatu instansi pemerintah. Aku gaberani lapor karna takut nilaiku hancur, orgtuaku sedih, aku takut hubungan RS dan kampusku akan berantakan, aku takut krn dia juga seorang yg punya pangkat tinggi, aku takut semua orang nyalahin aku.
Jd berawal aku dr ujian koas penyakit dalam, dr. A (kta sebut saja dr.A) jadi penguji aku. Sekilas dr.A ini dianggap galak oleh para koas, dr.A ini dokter yang selalu tepat waktu sholatnya, setiap ada presentasi dan azan datang, dia sll meninta berhenti dan langsung mengistirahatkan kelas utk sholat terlebih dahulu. Aku tdk pernah menyangka bila dr.A yang terpandang malah kaya gt. Jadi ceritanya, Setelah aku ujian tulis, dia minta aku datang ke lantai 6 ruang perawatan , diujung gedung yg ruangannya kosong. Jadi aku cuma berdua aja sm dia didalem ruangan. Waktu itu jam setengah2 siang.
Awalnya dia menanyakan ttg kasus yang aku pilih, dia menanyakan patofisiologi penyakit dll, tiba2 dia menanyakan bagaiamana cara pemeriksaan JVP, bagaimana cara pemeriksaan hepar, dll. Ketika aku salah menjawab, dia selalu beejalan ke arah belakang ku ( saat itu aku posisi duduk) dan dia lsg mempraktekkam cara pemeriksaan, ditubuhku lsg. Secara tdk langsung dia meraba bagian dadaku bbrp kali. Kenapa aku tidak melawan? posisinya disitu aku sedang ujian, dan ruangan itu jauh dr keramaian, dan aku bnr2 cm gemeteran gabisa bergerak smp aku ngomong aja terbata2. Setelah “ujian” selama 2 jam, akhrnya aku dibolehkan pulang. Diperjalanan plg kekosan aku nangis crt ke pcrku, dia blg : kok bisa? kamu ga ngelawan? knp diem aja? Aku cm blg aku gbs gerak kaya badanku freeze.
Smp kosan aku nangis lg crt ke tmn kosanku, perempuan. Lagi2 pertanyaan yang sama, kenapa diem aja? Kalau gue mgkn akan ngamuk2, knp lo gq ngelawan ?
Lagi2 aku jawab aku gabisa apa apa. Entah, Apaka aku yg bodoh krn ga ngelawan atau gmn, perasaanku makin campur aduk. Bbrp hari kemudian, aku ngobrpl sm tmn lelakiku yg ujian sm dr.A, dia blg tdk ada yg aneh bahkan dr.A cm menanyakan bbrp hal trs ujian selesai, kemudian aku ngobrol dg tmn perempuanku yg ujian sama dr.A juga, dan ternyata perlakuannya sama persis seperti apa yang dr.A lakukannke aku. Kita sebut saja S, aku tanya ke S kenapa dia tdk melapor, S bilang sudah cerita ke orgtuanya, namun orgtua S bilang utk sabar saja, karena S ini chinese dan chinese tdk dihargai di indonesia, sedangkan kt melawan seorang dokter A yang seorang terpandang dan dokter konsulen berpangkat.
Setelah aku cari tau, ternyata setiap perempuan yang ujian dg dr.A adalah pilihan dr.A dan rata2 mendapatkan perlakuannyang sama. Sampai detik ini, belum ada yang berani speak up.
Tiga tahun kemudian, aku mengikuti seminar, dan aku bertemu lagi dengan dr tersebut dimana dia sebagai moderator. Badanku smp gemeteran dan merasa benci, jijik, sekaligus takut. Aku sempat merasa ngeri kl
Ktm laki2 yg tdk aku kenal, pikiranku jd kaya suuzon ke semua laki2. Dampaknya besar bgt ke aku. Aku berharap, siapapun ga akan pernah mgalamin ini lagi. Tp aku takut akan muncul korban2 lain spt aku, aku mau mencegah hal itu terjadi, tapi aku gamungkin bisa sendiri. Aku butuh banyak yg speak up.

This post is also available in: Indonesian