Di 2 kantor

I want to share my story especially untuk yang baru mau mulai bekerja. Kadang karena pekerjaan itu merupakan pekerjaan pertama dan kamu butuh experiencenya untuk di cv kamu, untuk batu lompatan membangun karir, kamu diam.

Pertama kali aku kerja adalah di sebuah kantor swasta saat belum wisuda sarjana bahkan. Gajinya ga sebanding sama gelar yang akan didapat dari universitas negeri ternama. Tapi karena pekerjaan pertama, dan bahkan belum lulus sudah diterima, kenapa engga. “Kenapa engga” ini yang kemudian akan selalu jadi awal segala masalah.

Di pekerjaan pertama ini, directornya suka ‘minum’ di ruangannya. Jadi sering aga tipsy gitu. Dan selalu setiap begitu dia jd ga punya sense buat physical distance. Dia SELALU berdiri terlalu dekat dan sangat ramah. Genggeus, tapi.. “kenapa engga”.

Then, one day, ada suatu keributan gitu depan kantor. Kita semua kaya numpuk di pintu mau liat, desekdesekan… lalu si boss itu berdiri nempel di belakangku. Nempel. After that, saat semua mau bubar, he grope my butt. Yes, around all other people. Tapi ofc ga ada yg liat, atau ada yg liat tp purapura gatau. I’m speechless. Shocked. Tapi pada akhirnya I did nothing until the day I resigned.. a year after. Kok lama banget bertahan dan purapura ga ada apaapa? Ya.. “kenapa engga”? Kan buat cv ga bagus kalo kaya kutu loncat.

How do I feel? I still feel disgusted with myself, and him ofc until today.

Nah, kebetulan setelah itu aku dapet pekerjaan yang lebih sesuai passion. Reporter berita.
FYI, reporter cewe itu prone to be verbally abused EVERYDAY setiap di lapangan, dan di kantornya sendiri 🙂
Suatu hari aku pernah lagi nunggu editan berita, terus kaya bediri di belakang editor trs aga nunduk rukuk gitu sambil nunjuk2 monitor.. trs ada salah satu boss lewat terus bilang “malem jumat nih.. aduh.. si K nunggingnungging pula..”
Like.. WTF.
But again, karena itu sering dan I like this job, “kenapa engga”? Toh he did no harm. At least that what I thought.

Ternyata, komentar itu masih ada di otakku sekarang. 7 years after it happened. So, No. Dont do the “kenapa engga”.

This post is also available in: Indonesian