Di Wisma Atlet

Aku butuh waktu dari kejadian dan berani ungkap sekarang. Sebenarnya masih takut karena pelaku sepertinya anggota yang jabatannya lumayan, karena yang lain seperti menghormati pelaku dan jadi bawahan saja. Kejadiannya beberapa minggu lalu, aku bersama Mama dan kakaku mau jemput adikku dari luar negeri. Ternyata, karena adikku tidak membawa dokumen test PCR dari negara keberangkatan dia, adikku dibawa ke Wisma Atlet Pademangan karena rapid negatif untuk selanjutnya dikarantina dan di Swab test. Kita nyusul adikku, kita perempuan bertiga jam sudah hampir setengah 12 malam (kondisi sedih, capek dan panik karena adik sulit dihubungi dan pihak bandara yang buruk dan kacau sekali sistem informasinya, kita sampai 8 jam nunggu di bandara sampai akhirnya adikku bisa dapat wifi yang betul2 works dan ngabarin kita klo sebenarnya adik dibawa ke wisma atlet). Sampai di Wisma Atlet dari saat kita bertanya pun sudah diketusin, yang jaga semua tentara. Lokasi sepi gelap di luar komplek Wisma. Tapi justru salah satu ‘komandan’ di sana melontarkan kalimat yang sangat tidak etis, terlebih lagi aku bersama dengan Mamaku di sana. Dia seenaknya nyeletuk “kalau mau nginep di sini juga gapapa (padahal ga boleh, kita juga tidak meminta). Di kamar saya bareng sama saya” disertai senyum cabul karena dia menurunkan maskernya. Aku sampai kesal dan nanya “hah? Gimana?!” dan dia mengira aku merespon untuk bercanda. Dengan pedenya dia menunjuk salah satu tower “saya juga di sini nginep, sama saya bisa ga apa apa..” dengan masih cengengesan. Padahal aku sebenarnya marah sekali. Itu sama sekali tidak lucu. Terlebih untuk personil yang ditugaskan untuk menjaga, tetapi justru membuat kami yang tanpa celetukkan kurang ajar saja sudah khawatir karena kondisi yang sepi gelap dan situasi saat itu dimana hanya kami bertiga saja yang perempuan. Apalagi si bapak terus terusan berjalan di sekitar kami, aku sampai takut kalau kalau dia berani menyentuh kami dan aku terus berusaha berdempet dengan Mama dan kakakku, kami juga saling menarik satu sama lain agar berdekatan ketiks pelaku pelecehan verbal itu berjalan di sekitar kami. Aku mau marah, tapi adikku akan ada di sana untuk 4 hari ke depan dan aku tidak mau adik yang pulang ke Indonesia aja gara gara punya masalah dengan mental healthnya, bisa bisa nanti karena aku marah ke si pelaku, adikku jadi dapat gangguan dari mereka nantinya. Malam itu sedih dan menakutkan. Aku kesal karena hal itu terjadi dilakukan oleh pelaku yang seharusnya membuat kami merasa aman dan sedih karena aku tidak bisa melawan karena adikku ‘dititipkan’ di sana. Adikku sudah pulang, aku sekarang masih takut sebenarnya kalau dia melihat tulisan ini dan mungkin melakukan teror karena dia tau tempat tinggal kita. Makanya aku pun belum melaporkan hal ini ke instansi terkait.

This post is also available in: Indonesian