Kantor menjadi tempat yang menyeramkan

Saya pernah bekerja di salah satu perusahaan yang didominasi laki-laki. Di dalam kantor itu hanya terdapat dua perempuan dalam satu gedung. Kesulitan mulai saya alami ketika saya harus bergabung bersama mereka dan harus mendengar bercandaan yang merujuk kepada hal-hal yang berbau seksual dan komentar mengenai tubuh perempuan.
hal-hal yang janggal mulai saya alami sebagai contoh ketika mereka mulai memberikan komen seksual terhadap tubuh saya seperti: ‘Enak banget lu kalau dibanting-banting di kasur’ ‘gue kalau mau sih gue bisa aja nidurin lu’ dll.
kemudian hal lain nya yang saya alami adalah setiap saya memakai baju apapun saya selalu mendapat komen yang tidak baik terhadap tubuh saya.

kontak fisik yang terjadi adalah, ketika saya sedang mengetik di depan latop saya kemudian tiba-tiba orang dapat memegang tangan saya dari belakang. Atau memegang dagu saya.

Saya merasa tertekan dan saya merasa tidak nyaman atas semua hal yang terjadi, dampak yang terjadi adalah saya kesulitan untuk bekerja, saya selalu mencari celah untuk keluar kantor dan menyelesaikan pekerjaan di luar kantor.

Saya ketakutan.
Kantor bagi saya bukan lagi tempat bekerja, tetapi menjadi tempat yang menyeramkan bagi saya. Saya sering mengalami panic attack ketika saya di kantor. Tiba-tiba saja saya merasa deg degan yang parah, berkeringat dingin, sulit bernapas.
Saya terkena anxiety attack.

Saya mulai berdiskusi dengan teman perempuan saya yang lain, dia merasa di tidak mendapatkan hal senonoh tersebut, saya paham karena dia berkerudung.
Saya mulai merasa sedih.

Sampai akhirnya saya merasa mereka harus diberikan pemahaman bahwa saya terganggu.
Akhirnya saya mulai membentak kepada orang-orang yang mulai memberikan komentar kepada saya. Saya memberanikan diri meskipun komen mereka setelah itu tetap memberikan komentar bahwa saya lebay dan tidak bisa diajak bercanda.
Disitu saya mulai kesal.

Akhirnya saya merasa saya harus berbicara kepada general manager saya atas permasalahan ini. Akhirnya saya bercerita, dan GM saya langsung melaporkan ini ke HR, kemudian saya di rotasi.

Sebenarnya, rotasi pada karwayan bukan suatu pemecahan masalah yang baik. Mengapa? Karena itu tidak akan memberhentikan rantai pelecehan ini pada saya, namun jika ada perempuan lagi yang ditempatkan disana kemungkinan besar dia akan menjadi korban.

Saya berbicara ini pada HRD, dan mereka menyetujui untuk menyelesaikan masalah ini sampai ke akarnya.
Sampai sekarang, saya merasa permasalahan itu memberikan dampak yang panjang pada kondisi tubuh saya.
Saya merasa takut.
Saya membutuhkan waktu lama untuk ‘pulih’ kembali

This post is also available in: Indonesian